Pengaruh Pentingnya Kualitas Air Bagi Kelanjutan Ekspor Udang di Indonesia

Udang menjadi komoditas unggulan dalam ekspor hasil perikanan Indonesia. Berdasarkan data dari UN Comtrade (2018), pada tahun 2016 Indonesia menjadi eksportir udang beku terbesar nomor dua setelah India, dengan persentase nilai 20% (U$$ 850.673 ribu) dari total ekspor dunia ke Amerika Serikat. Negara eksportir besar lainnya yaitu Ekuador, Thailand, Vietnam, dan Meksiko.

Kendati Indonesia berada pada peringkat dua ekspor udang, namun nilai ekspor di Indonesia masih tergolong fluktuatif. Turunnya nilai ekspor udang dan beberapa komoditas hasil perikanan disebabkan karena masalah eksternal dan internal seperti mayoritas tambak udang yang masih dikelola secara tradisional, memiliki produktifitas rendah, serta biaya produksi yang tinggi. Para pembudidaya juga mengeluhkan biaya pakan untuk udang di Indonesia yang relatif lebih mahal 15% dibandingkan Thailand, dan  40%  lebih mahal dibandingkan China.

Ekspor Udang ke luar negri

Regulasi meningkatkan ekspor udang diperlukan dukungan dan perhatian dari pembudidaya terkait standarisasi produksi yang bebas dari bahan kimia, penggunaan antibiotik, serta bakteri dan virus. Lantaran hal tersebut dapat menjadi penyebab menurunnya volume ekspor udang di Indonesia. Oleh karena itu, diperlukan adanya perbaikan infrastuktur tambak untuk mendorong meningkatkan produktivitas budidaya, sehingga mampu meningkatkan produksi dan tentunya pendapatan pembudidaya. Peningkatan kualitas lingkungan perairan harus menjadi prioritas yang perlu dilakukan karena lingkungan yang baik dapat menjadi media yang baik bagi pemeliharaan udang. 

Namun ironinya pengelolaan lahan budidaya udang di Indonesia masih belum tertata dengan baik. Tambak-tambak tradisional inilah yang butuh penataan karena cenderung memiliki infrastruktur buruk dan tata letak yang tidak beraturan, sehingga memicu penurunan kualitas lingkungan yang menyebabkan kemunculan hama dan penyakit. Hambatan pembudidaya udang terkait serangan penyakit cukup masif terjadi sejak tahun 2020 dan menjadi salah satu faktor utama kerugian. Terdapat salah satu solusi perbaikan infrastruktur pengelolaan budidaya yang didukung dengan teknologi termutakhir untuk menanggulangi munculnya penyakit pada udang budidaya.

Artikel ini akan membahas tentang solusi tepat disinfeksi air budidaya udang dengan teknologi canggih dan berkelanjutan. Kami akan menjelaskan teknologi UV disinfeksi sistem yang tepat untuk meminimalisir penggunaan bahan kimia serta bebas bakteri dan virus pada air budidaya sehingga kualitas udang dapat tembus ke pasar ekspor.

Air dari tambak mempunyai peluang yang sangat baik untuk membawa virus dan bakteri patogen ke dalam tambak udang melalui sistem intake, sehingga dapat berdampak pada timbulnya serangan penyakit. Ini memberikan kontribusi yang signifikan terhadap kontaminasi AHPND/EMS di tambak udang putih. Penyakit ini dapat dihindari dengan upaya preventif dengan menciptakan lingkungan yang steril dari sumber penyakit dan mensterilkan kolam sebelum melakukan penebaran benih. Air kolam juga diharapkan bebas dari bahan kimia yang dapat mengganggu metabolisme dan pertumbuhan. Penggunaan bahan kimia untuk membasmi bakteri dan virus seringkali meninggalkan residu zat tersebut. Oleh karena itu, perlu dilakukan sterilisasi terhadap air tersebut tanpa menggunakan bahan kimia yang dapat menimbulkan resiko buruk bagi kesehatan udang vaname. Selain itu, pemanfaatan radiasi ultraviolet sebagai disinfektan telah berkembang dalam berbagai aspek kehidupan, seperti kesehatan, makanan dan minuman, sistem sterilisasi air kolam renang, dan sterilisasi air limbah di tempat pembenihan. 

Teknologi sterilisasi dengan menggunakan radiasi ultraviolet telah terbukti dapat membunuh bakteri dan virus pada air tambak dan telah diterapkan pada budidaya udang vaname secara intensif. Penggunaan radiasi ultraviolet adalah proses fisik mentransfer energi elektromagnetik ke materi seluler organisme. Radiasi ultraviolet merusak asam deoksiribonukleat (DNA), yang menyebabkan kematian sel. Sedangkan air yang bebas bakteri dan virus akan mengurangi risiko serangan penyakit pada udang vaname.

KAPORIT ULTRAAQUA
Boros biaya karena membutuhkan tambahan bahan kimia lain untuk dapat memaksimalkan kinerja dari kaporit. Hemat biaya sebab tidak membutuhkan bahan kimia atau proses tambahan.
Memerlukan ruang penyimpanan stok kaporit. Hemat lahan, karena tidak membutuhkan ruang penyimpanan untuk stok disinfektan.
Membutuhkan waktu 36 – 48 jam untuk dapat dialirkan pada tambak budidaya. Mendisinfeksi secara instan dan bekerja efektif menon-aktifkan pathogen hingga 99.99%.
Mahal sebab kaporit hanya dapat digunakan satu kali siklus budidaya. Lebih efisien sebab bohlam UV ULTRAAQUA bekerja selama 16.000 jam dan bergaransi.
Membutuhkan treatment khusus untuk menetralkan kadar kaporit agar tidak berbahaya bagi kolam. Perawatannya sederhana dan mudah.
Berbahaya karena penggunaan kaporit pada tambak dapat menghasilkan residu kimia berbahaya bagi udang. Aman untuk udang sebab tidak menggunakan bahan kimia sehingga tidak menimbulkan overdosis dan ramah lingkungan.
Labor intensif dan berbahaya sebab dapat menimbulkan iritasi pada kulit. Minimal labor sebab teknologi ULTRAWIPER dari ULTRAAQUA dapat membersihkan quartz sleeve untuk mempertahankan intensitas cahaya UV.

Sedangkan salah satu bahan kimia yang sering digunakan untuk disinfeksi kolam pada tambak budidaya adalah kaporit yang memiliki beberapa kekurangan. Berbeda jika dibandingkan disinfeksi menggunakan sinar UV seperti yang terdapat pada teknologi bernama ULTRAAQUA. Berikut ini perbandingan keduanya:

UltraAqua

Secara keseluruhan metode sistem disinfeksi UV pada air budidaya udang terutama dalam kualitas air budidaya cukup optimal karena efisiensi energi dan akan menghasilkan produk udang yang lebih baik. Meskipun biaya investasi awal mungkin lebih tinggi, namun dalam jangka waktu panjang metode ultraviolet bisa menjadi opsi yang lebih ekonomis dan efisien untuk budidaya udang.