Kualitas air di Indonesia ternyata masih cukup memprihatinkan. Pasalnya menurut situs World Population Review yang membahas tentang peringkat kualitas air di seluruh dunia, posisi Indonesia berada di peringkat cukup bawah. Bahkan posisi Indonesia berada di paling bawah jika dibandingkan dengan negara-negara di Asia Tenggara lainnya. Dari total nilai 100, Indonesia hanya memiliki nilai 24,9 yang cukup berbeda jauh dengan negara tetangga yakni Malaysia dengan nilai 48,2.

Data ini selaras dengan penelitian yang dilakukan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada tahun 2022 yang menunjukkan Indeks Kualitas Air di Indonesia masih berada di angka 53,88. KLHK mengklaim bahwa angka tersebut belum berhasil memenuhi target yang berada di angka 55,03. Permasalahan kualitas air di Indonesia yang buruk ini terjadi karena berbagai hal seperti terbatasnya sumber air bersih, konsumsi air yang berlebih, hingga pencemaran limbah dari rumah tangga maupun industri.

Salah satu akibat dari berbagai permasalahan tersebut dapat menyebabkan merebaknya populasi bakteri Escherichia Coli. Bakteri yang biasa dikenal dengan sebutan E. coli ini dapat menimbulkan gangguan kesehatan utamanya pada sistem pencernaan. Bakteri ini di Indonesia telah ditemukan di berbagai sumber air seperti sumur dan sungai, bahkan lebih parahnya bakteri E. coli sudah ditemukan pada air galon isi ulang. Baru-baru ini yakni pada tahun 2023, pemerintah Yogyakarta kembali melakukan pengujian pada Indeks Kualitas Air pada air sungai yang lagi-lagi hasilnya masih jauh dari kata baik.  Dikarenakan dari skala 0-100, kualitas air sungai Yogyakarta masih berada di kisaran angka 25-50. Melansir dari situs resmi Pemerintah Kota Yogyakarta, Intan Dewani selaku Ketua Tim Kerja Pengawas Lingkungan Hidup mengatakan bahwa keberadaan E. coli memberikan dampak yang cukup buruk bagi kualitas air sungai.

“Dari pemantauan yang dilakukan parameter paling dominan yang membuat kualitas air sungai di Kota Yogyakarta memburuk adalah pengaruh bakteri E. coli,” ungkapnya.

Seperti yang telah dibahas sebelumnya, bahwa keberadaan bakteri E. coli ternyata sudah merambah pada air galon isi ulang. Kabar ini tentu saja cukup mengkhawatirkan, mengingat kebanyakan masyarakat Indonesia saat ini menggunakan galon isi ulang untuk air minum sehari-hari. Melansir dari situs detikhealth, kondisi ini diketahui melalui riset yang dilakukan Universitas Padjajaran yang menemukan bahwa 50 persen air isi ulang di sekitar Kabupaten Bandung telah terkontaminasi bakter E. coli.

Melihat kondisi kualitas air di Indonesia yang cukup memprihatinkan ini, diperlukan sebuah tindakan yang dapat mencegah bakteri E. coli masuk ke dalam tubuh khususnya melalui perantara air. Oleh karena itu, dibutuhkan sterilisasi air yang mampu membunuh bakteri E. coli di air namun dengan cara yang ramah lingkungan. Solusi dari sterilisasi ini adalah dengan memanfaatkan sinar ultraviolet yang mampu mendisinfeksi air dari berbagai mikroba berbahaya seperti E. coli. 

Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang water treatment, YUKI memiliki berbagai produk yang menggunakan sinar ultraviolet untuk mendisinfeksi air seperti Luminor Blackcomb, Luminor Glacier UV LED. Bahkan untuk di bawa ke mana-mana YUKI memiliki solusi berupa tumblr atau botol yang dilengkapi dengan sinar ultraviolet yang mampu mendisinfeksi mikroba hingga 99,9% bernama Glacier Luminor UV Bottle. Dengan menggunakan berbagai solusi dari YUKI Water Treatment, Anda tidak perlu cemas akan ancaman bakteri E. coli lagi, sehingga dapat minum dengan aman dan tenang.

Baca Juga: