Kenaikan harga daging ayam sering dianggap sebagai peluang peningkatan pendapatan, namun kenyataannya tidak selalu berbanding lurus dengan keuntungan karena tingginya biaya produksi seperti pakan, DOC, obat, dan vitamin yang menekan margin usaha. Oleh karena itu, peternakan ayam broiler perlu menerapkan strategi teknis yang berfokus pada efisiensi produksi, di mana pengelolaan parameter produksi seperti Feed Conversion Ratio (FCR), pertumbuhan bobot harian, tingkat mortalitas, dan keseragaman bobot badan menjadi faktor penentu utama dalam menjaga performa optimal dan keberlanjutan usaha, dibandingkan sekadar meningkatkan populasi tanpa manajemen yang terkendali.
Kualitas air minum merupakan salah satu faktor paling penting dalam mendukung performa ternak, namun sering diabaikan. Secara fisiologis, konsumsi air dapat mencapai dua kali lipat dari konsumsi pakan dan berperan krusial dalam proses metabolisme, pencernaan, serta penyerapan nutrisi. Air dengan kualitas yang tidak terkontrol, seperti tingginya kandungan besi, mangan, kapur, maupun kontaminasi mikroorganisme patogen, dapat mengganggu konsumsi pakan, memicu gangguan pencernaan dan penyakit subklinis, serta pada akhirnya berdampak langsung terhadap penurunan efisiensi produksi.
Oleh karena itu, diperlukannya pengolahan kualitas air menjadi salah satu solusi strategis untuk menjaga kualitas air minum tetap konsisten. Beberapa treatment yang bisa dilakukan oleh peternak seperti :
1.Filtrasi
Proses filtrasi berfungsi untuk menyaring partikel tersuspensi penyebab kekeruhan, serta kandungan logam seperti besi, mangan, dan kapur yang berpotensi menyebabkan pembentukan karat dan kerak pada sistem perpipaan, sehingga sistem distribusi air lebih terjaga dan proses disinfeksi air menjadi lebih efektif.
2. Disinfeksi/Sterilisasi
Penerapan disinfeksi air menggunakan teknologi sinar ultraviolet (UV-C) menjadi alternatif yang semakin relevan di peternakan ayam pedaging. Teknologi UV-C bekerja dengan menonaktifkan mikroorganisme melalui kerusakan DNA tanpa meninggalkan residu kimia pada air minum, sehingga kualitas air dapat terjaga secara berkelanjutan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan kimia yang berpotensi menimbulkan resistensi atau residu dalam sistem pemeliharaan.
Penerapan sistem water treatment yang tepat berkontribusi pada peningkatan efisiensi produksi melalui FCR yang lebih terkendali, pertumbuhan bobot badan yang lebih seragam, serta penurunan gangguan pencernaan dan mortalitas. Di tengah kenaikan harga daging ayam, stabilitas performa produksi menjadi kunci dalam menjaga profitabilitas usaha, sehingga pengelolaan kualitas air minum melalui sistem filtrasi dan disinfeksi yang tepat perlu diposisikan sebagai bagian dari strategi produksi yang berkelanjutan.
Baca Juga:
- Kualitas Air Berubah di Musim Hujan, Sudah Siapkah Filter Air Anda?
- Filter Air, Solusi Cerdas atau Justru Pemborosan Terselubung?
- Water Treatment yang Tepat di Musim Hujan, Jaga Keluarga Tetap Sehat
- Strategi Memaksimalkan Produksi Ayam Pedaging di Tengah Tekanan Kenaikan Harga Daging
- Memahami Kualitas Hidup Keluarga Indonesia dari Air.

