Pada akhir tahun 2023, polusi udara di Indonesia cukup memprihatinkan, bahkan Jakarta pernah menduduki peringkat pertama kota dengan polusi terburuk di dunia. Kondisi semakin diperparah dengan hujan yang tidak kunjung turun meski sudah memasuki musim hujan, sehingga menjadi salah satu penyebab mengapa polusi di Indonesia semakin memburuk. Kendati hal tersebut bukan menjadi faktor utama penyebab memburuknya polusi udara.
Curah hujan mulai meninggi saat memasuki bulan Januari 2024, bahkan di sejumlah kota diprediksi puncak musim hujan terjadi di antara bulan Januari hingga Maret. Meningginya curah hujan di Indonesia ini selaras dengan kondisi kualitas udara yang juga semakin membaik. Bahkan terpantau melalui situs IQAir pada Kamis (11/1), kualitas udara di Jakarta menunjukkan angka 60 yang menandakan polusi dalam kondisi sedang. Angka tersebut mengalami penurunan jika dibandingkan dengan hari sebelumnya yang menyentuh angka 124.

Kualitas udara yang semakin membaik di musim hujan ini sontak saja menimbulkan pertanyaan, apakah hujan dapat berdampak baik untuk memperbaiki polusi udara. Pengamat iklim dan lingkungan Universitas Gadjah Mada, Dr. Emilya Nurjani, S.Si., membenarkan bahwa turunnya hujan dapat mempengaruhi kondisi kualitas udara sekitar.
“Secara teori memang benar, karena jika ada hujan maka gas hasil pembakaran akan larut dengan air dan diturunkan ke permukaan sehingga udara kembali bersih,” terangnya dikutip dari laman resmi Universitas Gadjah Mada. Kendati demikian, Emilya menuturkan bahwa hujan bukan menjadi variabel utama membaiknya kualitas udara.
“Kecenderungan di musim penghujan kualitas udara lebih bagus dibanding musim kemarau, tapi pada saat pandemi kita melihat bahwa kualitas udara juga cukup baik bahkan saat musim kemarau. Jadi itu bukan satu-satunya variabel, meskipun musim penghujan tetap jika sumber pencemaran cukup tinggi maka kualitas udara bisa buruk juga,” sambungnya.
Terdapat lima parameter yang digunakan oleh IQAir untuk menghitung kualitas udara suatu daerah yakni PM2.5, PM10, O3, NO2, dan SO2. Kendati hujan dianggap dapat memperbaiki kualitas udara, hujan disebut kurang efektif untuk mengencerkan polutan PM2.5. Para peneliti di Lanzhou, Cina telah melakukan penelitian mulai tahun 2005 hingga 2007 terkait dampak hujan terhadap konsentrasi PM10, PM2.5, dan PM1 di udara. Hasil dari penelitian tersebut memperlihatkan bahwa hujan yang sangat lebat dapat mengurangi polutan dengan ukuran partikel yang besar, namun tidak berpengaruh bagi polutan yang lebih kecil dari 2,5 mikron termasuk PM2.5. Kesimpulan dari pemaparan di atas adalah hujan cukup berpengaruh untuk meningkatkan kualitas udara, namun dengan catatan hanya polutan yang memiliki ukuran besar yakni di atas 2,5 mikron.
Sementara itu, PM2.5 dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan pada manusia termasuk gangguan pada saluran pernapasan yang diketahui dapat dengan sangat mudah menular. Contoh penyakit dari saluran pernapasan yang mudah menular melalui udara antara lain batuk, flu, hingga ISPA. Untuk menjaga agar tubuh tidak mudah tertular dari penyakit-penyakit tersebut diperlukan adanya tindakan preventif seperti menggunakan alat yang dapat membasmi virus-virus tersebut di udara. Yuki Water Treatment memiliki solusi untuk permasalahan ini dengan menggunakan Ellips yang mampu menetralisir udara dari berbagai virus dan bakteri yang dapat menularkan penyakit. Sehingga membuat udara di dalam ruangan lebih sehat dan aman bagi tubuh.

