Tambak budidaya udang telah menjadi pemandangan umum di sepanjang pesisir Indonesia. Pastinya budidaya udang telah menyediakan sumber daya penting bagi industri perikanan nasional. Namun, di balik produksi yang menggiurkan, terdapat masalah yang sering kali terabaikan, yaitu permasalahan kualitas air. Kualitas air yang buruk dapat memiliki dampak yang merugikan pada lingkungan, kesehatan manusia, dan keberlanjutan produksi tambak udang itu sendiri.

Kualitas air yang baik sangat penting bagi keberlangsungan hidup udang. Udang adalah hewan air yang sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan. Para petambak mestinya harus paham terkait faktor-faktor yang dapat menyebabkan kualitas air buruk seperti yang dijelaskan di bawah ini.

1. Pencemaran Limbah

Limbah dari sisa pakan dan feses dapat mencemari air tambak sehingga menyebabkan penurunan kualitas air. Limbah organik ini dapat menguras oksigen dari air, meningkatkan tingkat amonia, nitrat, dan fosfat, serta memicu pertumbuhan alga yang berlebihan. Limbah dari sisa pakan dan feses udang juga dapat menjadi media ideal bagi pertumbuhan bakteri dan patogen, sehingga dapat meningkatkan risiko penyakit udang.  

Selain itu, limbah dapat juga datang dari wilayah sekitar tambak. Limbah ini dapat berasal dari berbagai sumber, termasuk industri, pemukiman, pertanian, dan aktivitas manusia lainnya di sekitar tambak udang. Kualitas air yang buruk akibat limbah dari wilayah sekitar tambak udang dapat meningkatkan risiko kesehatan bagi manusia yang berinteraksi dengan air tersebut. Limbah yang mengandung bakteri, logam berat, atau zat-zat beracun dapat menyebabkan keracunan, infeksi, atau penyakit lainnya pada manusia yang menggunakan air tersebut untuk konsumsi atau keperluan lainnya.

2. Penggunaan Bahan Kimia

Bahan kimia yang digunakan dalam tambak udang, seperti pestisida, antibiotik, dan bahan kimia lainnya, dapat mencemari lingkungan perairan tambak jika tidak dikelola dengan baik. Limbah bahan kimia ini dapat masuk ke dalam sistem perairan tambak, mengganggu ekosistem alami, dan membahayakan organisme yang ada di tambak. Selain itu, juga dapat menyebabkan eutrofikasi perairan. Hal ini mengakibatkan blooming alga, penurunan kualitas air, dan kerusakan ekosistem perairan yang sensitif.

Paparan terhadap bahan kimia yang digunakan dalam tambak udang dapat berdampak buruk pada kesehatan manusia. Residu bahan kimia yang tersisa dalam air tambak dapat mengkontaminasi produk udang yang dikonsumsi manusia, sehingga dapat menyebabkan keracunan atau efek samping kesehatan.

3. Perubahan Iklim

Air sebagai media dalam budidaya udang tentu tidak terlepas dari pengaruh perubahan iklim. Parameter kualitas air yang sangat berkaitan dengan perubahan iklim adalah suhu yang dapat dengan mudah mempengaruhi parameter yang lain, seperti pertumbuhan, konsumsi oksigen, konsumsi pakan, dan imun.

Saat suhu tinggi, metabolisme udang semakin meningkat dan pastinya konsumsi pakan juga meningkat. Namun sayangnya, pakan yang diberikan lebih banyak tetapi tidak terserap karena digunakan untuk metabolisme dan aktivitas udang yang meningkat akibat suhu naik. Sedangkan saat suhu rendah, udang mudah stres, bahkan yang lebih parah berujung pada kematian. Suhu rendah juga dapat membuat imunitas udang menjadi lemah sehingga rentan terserang penyakit.

Permasalahan kualitas air di tambak udang merupakan ancaman serius yang memerlukan perhatian segera dari pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat secara keseluruhan. Dengan mengadopsi praktik budidaya yang berkelanjutan dan memprioritaskan pelestarian kualitas air, kita dapat memastikan keberlanjutan industri tambak udang sekaligus melindungi lingkungan dan kesehatan manusia.

Dengan memperhatikan pentingnya pengelolaan kualitas air dalam budidaya udang, petambak dapat mengambil langkah-langkah proaktif untuk melindungi kesehatan udang, lingkungan, dan masyarakat sekitarnya.

Sebagai salah satu langkah proaktif untuk mengelola kualitas air tambak, peningkatan pemantauan kualitas air sangat penting dilakukan. Semakin sering pemantauan kualitas air dilakukan, semakin baik untuk kelancaran kegiatan budidaya udang. Maka dari itu, YUKI Water Treatment menawarkan LIQUISENS, solusi mutakhir yang dapat membantu untuk terus memantau kualitas air secara realtime dan nonstop.

Liquisens

LIQUISENS adalah alat pengecekan empat parameter kualitas air yang utama untuk budidaya. Didatangkan langsung dari Belgia, LIQUISENS dapat diaplikasikan langsung di kolam Anda dan bekerja dengan cara menujukkan hasil yang langsung keluar dalam bentuk notifikasi di smartphone petambak secara realtime.

Tidak hanya itu saja letak keunggulan LIQUISENS. Jika terjadi perubahan kualitas air secara drastis atau melewati ambang batas aman, secara otomatis LIQUISENS juga akan memberikan notifikasi berupa solusi atau saran tindakan yang harus dilakukan agar petambak segera menindaklanjuti perubahan kualitas air yang fluktuatif, sehingga dapat meminimalisir bahaya bagi proses budidaya.

Baca juga: