Air merupakan sumber vital bagi kelangsungan semua makhluk hidup di bumi. Begitu pun dengan manusia yang membutuhkan air untuk kehidupan sehari-harinya, mulai dari minum, hingga untuk keperluan proses produksi di setiap sektor industri. Meskipun kebutuhan akan air bersih sangat penting, namun tidak semua negara memiliki kualitas air yang baik. Kualitas air di setiap negara sangat bervariasi, hal ini dipengaruhi oleh aktivitas manusia dan faktor alamiah. Mengukur kualitas air di setiap negara memang penting untuk membantu memastikan kesehatan jangka panjang masyarakatnya demi terciptanya air yang bebas dari pencemaran dari berbagai kontaminan.

Environmental Performance Index (EPI) dari Universitas Yale di Amerika Serikat telah meranking negara-negara di dunia berdasarkan kualitas air mereka. Austria berada di peringkat pertama dengan nilai skor EPI sempurna yaitu 100. Selain Austria, negara-negara seperti Finlandia, Yunani, Islandia, Irlandia, Malta, Belanda, Norwegia, Swiss, dan United Kingdom juga memiliki nilai skor EPI sempurna yakni 100.

Setelah mengetahui peringkat negara teratas dengan kualitas air yang bagus, lantas, bagaimana dengan peringkat Indonesia? Sayangnya, Indonesia masih berada di peringkat rendah dengan skor EPI hanya 24,9. Bahkan, Indonesia menduduki peringkat terendah se-Asia Tenggara pada tahun 2022. Ini menunjukkan bahwa kualitas air di Indonesia masih terbilang buruk. Selaras dengan hal tersebut, sebuah penelitian yang dilakukan oleh UNICEF Indonesia menyebutkan hampir 70% air yang ada di Indonesia telah tercemar tinja.

Efek menggunakan air kotor

Di negara-negara maju, tap water atau air keran umumnya dianggap aman untuk dikonsumsi karena telah melalui proses penyaringan dan pengolahan yang ketat. Namun, berbeda dengan sebagian besar negara-negara berkembang seperti Indonesia, di mana masalah kualitas air masih menjadi tantangan utama. Banyak penduduk di negara-negara berkembang masih tidak dapat menggunakan air keran untuk kebutuhan minum karena risiko kontaminasi dan kualitas air yang rendah.

Air yang telah terkontaminasi oleh zat kimia maupun mikroorganisme dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan. Zat kimia seperti logam berat meliputi (timbal, aresenik, merkuri) atau bahan kimia industri yang terlarut di dalam air memiliki efek negatif bagi tubuh, terutama jika digunakan dalam jumlah yang berlebihan. Selain itu, paparan jangka panjang terhadap zat kimia tertentu pada air yang terkontaminasi juga dapat meningkatkan risiko terjaidnya penyakit kronis seperti kanker, hingga kerusakan organ dalam.

Bagaimana solusi untuk memastikan kualitas air telah memenuhi standar keamanan kesehatan?

Dalam menghindari masalah kesehatan yang disebabkan pencemaran air yang setiap harinya semakin meluas, sangat penting untuk memastikan air yang digunakan sehari-hari aman dan terbebas dari zat kimia berbahaya. Memberikan edukasi kepada masyarakat terkait pentingnya air bersih dan kebersihan lingkungan menjadi salah satu langkah penting dalam pencegahan penyakit yang terkait dengan pencemaran air. Selain itu, pengolahan air yang efektif seperti filterisasi sangat diperlukan untuk memastikan kualitas air yang memenuhi standar keamanan kesehatan. Sehingga, Anda dan keluarga dapat menikmati air tanpa khawatir bahaya yang mengancam.

Logo Yuki
Yuki Water Treatment

YUKI Water Treatment, perusahaan pengolahan air pertama di Jakarta yang telah berdiri sejak 1980-an. Sudah berdiri lebih dari 40 tahun membuat YUKI telah dipercaya dalam memberikan solusi perihal masalah air baik dalam dunia residential maupun industrial. Produk YUKI diimpor langsung dari negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Kanada, Swiss, Jerman, dan Jepang, sehingga produk lebih terjamin dan menggunakan teknologi mutakhir, membuat hasil pengolahan air lebih berkualitas.

YUKI menawarkan beragam produk water treatment yang mencakup pengolahan air baku menjadi air bersih, air bersih menjadi air steril, dan air steril menjadi air minum yang aman. Semua proses ini terbukti efektif dalam menghilangkan zat kimia dan mikroorganisme sehingga air tersebut layak untuk dikonsumsi.

Baca juga: