Tanpa disadari, kita sudah sampai pada peralihan musim. Perubahan dari musim kemarau ke musim hujan maupun sebaliknya, seringkali menjadi tantangan bagi para peternak. Ada beberapa tantangan dalam pemeliharaan ternak saat curah hujan tinggi. Salah satu tantangannya adalah mengenai kesehatan ternak. Secara umum, saat musim hujan, ternak cenderung lebih rentan terhadap penyakit. Penurunan daya tahan tubuh ternak dapat terjadi akibat stres cuaca, yang disebabkan oleh lingkungan yang tidak nyaman, seperti suhu dingin dan angin kencang. Penurunan kesehatan ternak juga dapat disebabkan oleh semakin berkembangnya mikroorganisme patogen. Lingkungan yang lembab dapat meningkatkan pertumbuhan bibit penyakit karena kondisi ini menjadi kondisi yang ideal bagi bakteri, virus, parasit dan jamur untuk tumbuh dan berkembang. Selain itu, peningkatan curah hujan juga berisiko menurunkan kualitas air yang ada di setiap daerah.
Curah hujan yang tinggi dapat menurunkan kualitas air akibat tingginya kontaminasi mikroorganisme patogen. Air menjadi media penularan bibit penyakit, sehingga memerlukan penanganan khusus. Selama musim hujan, sumber air di peternakan seperti sumur, bak penampungan, atau sungai dapat tercemar oleh mikroba patogen, terutama bakteri E. coli dan Salmonella sp. Bakteri ini akan terbawa oleh feses ternak yang kemudian meresap ke dalam tanah, yang pada akhirnya memengaruhi kualitas air. Oleh karena itu, penting untuk memperhatikan kualitas air selama musim hujan agar performa ternak tetap terjaga.
Lalu, bagaimana cara mengurangi adanya cemaran mikroorganisme dalam air agar produktivitas ternak Sobat Farming tetap terjaga?

Simple saja, kita memerlukan inovasi teknologi yang mampu menonaktifkan mikroorganisme terutama bakteri E. coli dan Salmonella sp tanpa meninggalkan residu berbahaya, sehingga air menjadi aman untuk dikonsumsi oleh ternak. Penggunaan sinar Ultraviolet C (UV-C) sudah terbukti efektif untuk menonaktifkan mikroorganisme patogen seperti bakteri, jamur dan virus tanpa meninggalkan residu berbahaya. Dengan dosis 30mJ/cm³ dan panjang gelombang mencapai 254 nm, sinar UV-C dapat merusak sistem DNA dan RNA mikroorganisme, sehingga dapat menonaktifkan hingga 99,9% mikroorganisme yang ada di air.
Selain itu, sinar UV-C juga memiliki keunggulan lain seperti :
- Instan : air yang disterilisasi dapat langsung dikonsumsi oleh ternak
- Ramah lingkungan: tidak meninggalkan residu berbahaya
- Aman : tidak mengganggu sistem pencernaan
- Low maintenance : hanya perlu pembersihan dan pergantian lampu
Sehingga, sinar UV-C dapat memastikan bahwa air yang telah diproses terbebas dari mikroorganisme patogen dan aman untuk digunakan sebagai sumber air minum bagi ternak.
Baca Juga:
- Sering Diremehkan, Ini Tanda-tanda Air di Rumah Anda Butuh Filter Air Segera
- Air Kuning di Rumah, Berbahaya atau Tidak? Ini Penyebab & Cara Mengatasinya
- Lebih dari 90% Air Tanah di Jakarta Tercemar E. coli, Yakinkah Air di Rumah Anda Sudah Aman?
- Filter Air Sumur EVI: Solusi untuk Segala Kondisi Air Sumur di Indonesia
- Treatment Air Bersih Terpercaya dengan Pengalaman Lebih dari 40 Tahun
