Indonesia adalah negara kaya akan biodiversitas dan dikaruniai oleh Tuhan dengan matahari yang muncul sepanjang tahun. Hal ini juga menjadi berkah bagi masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada kegiatan pertanian (bertani, beternak, dan budidaya ikan) dalam memenuhi kebutuhan hidupnya karena kebutuhan akan sinar matahari, air serta nutrisi yang dibutuhkan tanaman jadi terpenuhi.
Namun bagi pembudidaya ikan, cuaca yang tidak menentu menjadi kendala dan tantangan tersendiri. Sebab ikan sangat bergantung pada kondisi lingkungan sekitar. Ketika lingkungan berubah-ubah, maka akan mempengaruhi kondisi air. Kondisi air yang berfluktuatif sangat berpengaruh bagi ikan, bahkan dapat menyebabkan stress. Kondisi stress ini dapat berimplikasi pada kematian massal.
Hal ini tentu menjadi tantangan yang harus diantisipasi oleh pembudidaya. Salah satu sektor yang sangat riskan adalah budidaya udang yang notabene berada di pesisir pantai. Perubahan kondisi lingkungan sangat erat kaitannya dengan keseimbangan ekologis di kolam. Saat salah satu parameter kualitas air drop, maka akan menimbulkan korelasi dengan peningkatan atau penurunan kualitas air yang lain.
Sebagai contoh, yaitu kematian massal plankton (plankton crash). Plankton crash dapat dipicu oleh banyak hal diantaranya yaitu, fluktuasi pH dan suhu akibat hujan, kondisi blooming plankton, dan kompetisi nutrien dengan bakteri heterotrof.
Plankton crash dapat berimplikasi pada munculnya potensi penyakit. Hal tersebut terjadi karena beberapa jenis plankton dapat menghasilkan zat toxic ketika mati, penurunan oksigen terlarut di air, dan ketidak seimbangan ekologis (dominasi bakteri heterotrof).
Zat toxic yang dihasilkan oleh plankton seperti microcystin dapat menyerang hepatopankreas dan imunitas udang. Penurunan oksigen terlarut terjadi karena dominasi bakteri heterotrof yang membutuhkan oksigen dalam mengurai bahan organik. Saat itu terjadi, maka CO2 di air meningkat sehingga menyebabkan kondisi stress bagi udang. Selain itu bakteri vibriosis juga dapat meningkat, karena sebagian bakteri vibrio termasuk dalam jenis bakteri heterotrof dan bersifat opportunistic.
Dengan dampak tersebut, maka akan sangat berbahaya bagi udang. Zat microcystin akan merusak hepatopankreas dan menciptakan stress oksidatif. Hal ini dapat menjadi gerbang bagi munculnya infeksi penyakit, seperti AHPND yang disebabkan oleh Vibrio parahaemolyticus. Lebih jauh lagi, kombinasi antara kelimpahan vibrio di organ pencernaan (hepatopankreas dan usus) yang berlebih, kualitas air yang buruk, dan dominasi plankton dari kelas Cyanophyceae di air dapat menyebabkan munculnya penyakit white feces disease (WFD).
Seluruh aspek tersebut dapat menciptakan kondisi yang buruk bagi pembudidaya, gagal panen dan kerugian ekonomi selalu menghantui mereka. Oleh karenanya, penting dalam manajemen kualitas air baik fisika, kimia, dan biologi pada saat cuaca yang sering berubah-ubah agar potensi plankton crash dapat terhindarkan. Selain itu, kelimpahan mikroba dalam pencernaan udang juga menjadi kunci dalam menjaga udang dari paparan penyakit. Pemberian pakan fungsional, feed additive, dan probiotik dinilai mampu mencegah kematian dan meningkatkan imunitas udang. Sehingga ancaman kerugian dapat terhindarkan.
Baca Juga:
- Filter Air Sumur EVI: Solusi untuk Segala Kondisi Air Sumur di Indonesia
- Treatment Air Bersih Terpercaya dengan Pengalaman Lebih dari 40 Tahun
- Satu-Satunya Filter Air di Indonesia dengan Teknologi Vortech dari USA
- Filter Air Terbaik untuk Anda: Food Grade & Sistem Filtrasi Vortech
- YUKI Water Treatment: Komitmen Meningkatkan Kondisi Air Baku dengan Filter Air Berkualitas
