Kualitas air tanah di Jakarta saat ini tergolong dalam keadaan yang cukup mengkhawatirkan. Pasalnya tercatat lebih dari 90% keseluruhan air tanah di Jakarta mengandung bakteri E. coli. Sementara masih banyak warga Jakarta yang masih menggunakan air tanah sebagai sumber air untuk kebutuhan sehari-hari. Hal ini tentu saja menimbulkan kekhawatiran.

Fakta tersebut didukung dengan pernyataan Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) yang menyatakan bahwa tingkat pencemaran air tanah Jakarta oleh bakteri E. coli mencapai 65 hingga 93 persen. Kondisi yang serupa juga dituturkan oleh Direktur Utama Perusahaan Daerah Pengelolaan Air Limbah Jakarta Raya (PD PAL Jaya) bahwa tercatat setidaknya terdapat 10.000 bakteri dari 100 cc air di Jakarta. 

Penyebab dari permasalahan tersebut salah satunya karena kurang lebih dari 500.000 warga Jakarta masih buang air besar sembarangan di sungai dan penggunaan MCK yang tidak layak. Kondisi diperparah dengan masih banyak pembangunan sumber air seperti sumur yang terlalu dekat dengan septic tank

Jarak antara sumur dan septic tank telah diatur dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 33/PRT/M/2016 Tahun 2016 (Permen PUPR 33/2016) yang menyebutkan bahwa jarak antara sumber air dan septic tank harus lebih dari 10 meter. Angka tersebut ditentukan bukan tanpa alasan. Keharusan jarak 10 meter tersebut disebabkan bakteri E. coli yang bersifat anaerob, sehingga mempunyai usia harapan hidup selama tiga hari.

Jika jarak antara septic tank dan sumber air terlalu dekat, dikhawatirkan pencemaran E. coli semakin mudah terjadi. Infeksi bakteri E. coli di tubuh manusia dapat menyebabkan beberapa gangguan di saluran pencernaan, seperti infeksi saluran kemih, dehidrasi, diare, bahkan dalam kondisi yang parah dapat mengakibatkan diare berdarah.

Kontaminasi bakteri E. coli di air sulit terdeteksi dengan mata secara langsung. Hal inilah yang menyebabkan kontaminasi E. coli  dapat bereaksi secara masif. Oleh karena itu, dibutuhkan tindakan pencegahan untuk melindungi dari kontaminasi bakteri E. coli.

Luminor UV-C System menjadi solusi tepat untuk mencegah kontaminasi bakteri E. coli dari sumber air. Luminor bekerja dengan menggunakan teknologi UV-C untuk menonaktifkan segala jenis patogen di air termasuk E. coli. UV-C bekerja dengan cara merusak DNA dan RNA patogen, sehingga tidak dapat berkembang biak dan menginfeksi. Konsep inilah yang membuat disinfeksi air dengan teknologi UV-C menjadi lebih efektif dan efisien.

Sebelum menggunakan sistem disinfeksi air, perlu dipastikan bahwa air Anda telah terbebas dari kandungan logam berat atau mineral lainnya karena dapat menghambat proses disinfeksi. Oleh karena itu, diperlukan proses filtrasi air, sehingga seluruh kandungan logam berat maupun mineral dapat tersaring dengan optimal.

Berbicara tentang filter air, YUKI memiliki solusi terbaik nomor satu di Indonesia untuk filter air. EVI menjadi filter air yang sangat tepat untuk Anda karena menggunakan teknologi Vortech dari USA, sehingga strainer yang digunakan 2.5 kali lebih besar dibanding dengan strainer pada umumnya. Teknologi Vortech tersebut juga hemat air hingga 30% saat melakukan backwash. Hal inilah yang membuat EVI menjadi pilihan tepat filter air untuk rumah Anda.

Dengan kombinasi filter air EVI dan disinfeksi air Luminor menjadi langkah tepat untuk mencegah penyebaran bakteri E. coli di rumah Anda. Hasilkan air bersih dan steril yang aman untuk digunakan sehari-hari seperti masak, cuci tangan, mandi, sikat gigi, dan lain-lain. Hubungi YUKI sekarang juga untuk mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai EVI dan Luminor.

Baca Juga: