Dalam dunia perikanan dikenal istilah induced breeding untuk merangsang atau menstimulasi indukan ikan agar dapat melakukan pemijahan. Induced breeding dan pemijahan alami memang memiliki tujuan yang sama yaitu,untuk menghasilkan benih ikan. Tapi kedua metode tersebut tidak dapat digunakan pada semua jenis ikan. Lantas bagaimana metode pembenihan yang cocok untuk kebutuhan komoditas ikan di farm anda? Artikel ini akan membahas secara lengkap perbedaan keduanya dan bagaimana anda bisa menentukan metode pemijahan yang tepat untuk pembenihan komoditas ikan di farm anda.

Apa itu induced breeding?

Induced breeding atau pemijahan buatan merupakan teknik/metode pembenihan dengan adanya campur tangan manusia yang bertujuan mempermudah terjadinya pemijahan, sehingga kebutuhan benih ikan dapat terpenuhi. Metode induced breeding ini memanfaatkan injeksi hormon eksternal. Berbagai produk hormon komersial saat ini sudah banyak dikenal di kalangan para pembudidaya ikan. Hormon yang biasanya digunakan umumnya mengandung GnRH (Gonadotropin-releasing hormone) ataupun LHRH (luteinizing hormone-releasing hormone).

Mekanisme kerja induced breeding?

Hormon yang diinjeksikan di tubuh ikan akan dialirkan melalui pembuluh darah ke otak. Selanjutnya, hormon ini merangsang pelepasan gonadotropin dari hipofisis, seperti luteinizing hormone (LH) dan follicle-stimulating hormone (FSH), yang esensial untuk gametogenesis dan produksi hormon steroid pada ikan.

Kapan kita melakukan induced breeding?

Induced breeding hanya dapat dilakukan pada induk ikan yang sudah mengalami matang gonad. Anggapan bahwa ikan apapun dapat segera bertelur setelah diinjeksi oleh hormon adalah pernyataan salah karena sejatinya induced breeding merupakan solusi untuk ikan-ikan yang tidak mampu memijah secara alami bukan ikan yang tidak mampu menghasilkan sel telur ataupun sperma.

Lalu kapan ikan dapat dikatakan matang gonad ketika ingin dijadikan calon induk induced breeding?

Ikan yang matang gonad ditandai dengan usia yang telah mencapai usia induk dan ukuran yang memenuhi kategori induk. Selain itu, umumnya ikan yang telah matang gonad ditandai ciri-ciri  seksual dimorfisme yang berbeda dengan ikan yang belum siap dipijahkan. Contohnya pada ikan lele (Clarias gariepinus) akan berwarna lebih gelap, perut betina yang membuncit serta papilla genitalia yang berwarna kemerahan. Ciri-ciri tersebut bergantung pada jenis ikan yang akan dijadikan induk karena setiap spesies memiliki ciri fisik yang berbeda ketika matang gonad.

Sebaiknya ikan apa yang dibudidayakan secara induced breeding?

Tidak semua ikan dapat dengan efektif dibudidayakan menggunakan metode induced breeding baik segi alasan teknis ataupun bisnis. Umumnya injeksi hormon eksternal hanya diaplikasikan pada ikan-ikan yang memiliki permasalahan memijah ketika di lingkungan budidaya hal tersebut dikarenakan apabila hormon GnRH dipergunakan pada ikan yang dapat memijah secara alami dianggap sebagai pemborosan biaya operasional budidaya karena harga hormon komersial yang dapat mencapai Rp. 350.000 s.d 550.000 per 10 mL-nya. Selain itu hormon perangsang pemijahan ini sebaiknya digunakan pada ikan ikan yang memiliki bobot diatas 1 kg dengan prospek jumlah telur yang banyak karena anjuran pemakaian biasanya tercantum 0,5 ml/kg bobot ikan.  Volume dosis yang sedikit apabila diaplikasikan pada ikan ikan dibawah 1kg dapat mempersulit teknis pengambilan hormon yang dibutuhkan menggunakan spuit/jarum suntik. Oleh karena itu sebaiknya ikan-ikan dengan bobot dibawah 100gr sebaiknya menggunakan microliter syringe dalam penggunaannya.

Spesies ikan yang umum dipijahkan dengan teknik induced breeding?

  1. Bawal (Colossoma macropomum)
  2. Baung (Hemibagrus nemurus)
  3. Lele (Clarias gariepinus)
  4. Tawes (Barbonymus gonionotus)
  5. Koi (Cyprinus rubrofuscus)

Kekurangan induced breeding?

Meskipun sampai dengan saat ini tidak ada laporan bahwa penggunaan hormon perangsang pemijahan pada ikan menimbulkan adanya residu ataupun efek samping ketika komoditas tersebut dikonsumsi manusia. Namun, penggunaan yang berlebihan dapat menimbulkan kehilangan kemampuan pengikatan reseptor GnRH dalam menerima paparan yang terus-menerus di hipofisis. Selanjutnya, teknik mengaplikasikan hormon yang dilakukan dengan cara disuntik membuat indukkan sangat rentan stres. Berikutnya, hormon GnRH bukanlah hormon yang dapat digunakan secara maksimal apabila aplikasinya lewat oral (dicampurkan melalui pakan). Hal ini karena hormon GnRH dapat saja terdegradasi akibat adanya enzim-enzim pemecah protein di saluran pencernaan ikan. Selain itu, hormon GnRH komersial yang masih merupakan produk impor membuat harganya relatif mahal dan tidak ekonomis untuk pembudidaya ikan.

Penulis: Bimo Sujiwo Kusumo

Baca Juga: