Bumi semakin tua ditandai dengan berbagai kondisi alam yang kini semakin buruk. Salah satu contohnya merupakan terjadinya hujan asam di sejumlah kota di Indonesia. Semakin hari, air hujan di Indonesia semakin menunjukkan kadar asam, terutama di wilayah kota-kota besar. Pada November 2023, BMKG melakukan pemantauan di 52 kota di Indonesia terkait kadar pH air hujan. Dari 16 data sampel yang dipaparkan hanya terdapat 5 daerah yang memiliki air hujan dengan kadar pH normal. Adapun kelima kota tersebut adalah Kediri, Kenten, Mutiara, Ngurah Rai, dan Pulau Baai. Selain 5 daerah itu, terdeteksi memiliki kadar pH air hujan di bawah 5,6 yang menandakan kota-kota tersebut telah mengalami hujan asam. Sembilan daerah tersebut antara lain, Banjarbaru, Cilacap, Dramaga, Jefman, Kemayoran, Kototbang, Masgar, Negara, Pondok Betung, Semarang, dan Supadio.
Kondisi ini sungguh memprihatinkan mengingat hujan asam akan membawa dampak buruk bagi kehidupan manusia maupun alam sekitar. Menurut Siswanto, selaku Kepala Subbidang Produksi Informasi Iklim dan Kualitas Udara Badan Meteorologi, hujan asam terjadi ketika sulfur dioksida (SO2) dan nitrogen oksida (NOx) naik ke lapisan atmosfer dengan dibantu oleh angin. Ketika telah berada di atmosfer, SO2 dan NOx bereaksi dengan air (H2O), oksigen (O2) dan senyawa kimia lain yang akhirnya membentuk asam sulfat dan asam nitrat hingga jatuh ke tanah dalam bentuk hujan asam. Hujan dapat dikatakan asam jika memiliki kadar pH di bawah 5,6, sedangkan batas normal pH air hujan normal berkisar antara 5,6-6. Namun, ketika pH air hujan menunjukkan angka 6-7,1 dapat dikatakan dalam kondisi yang sangat baik dan cenderung netral seperti air permukaan.

Ironinya sejumlah besar kota di Indonesia telah menunjukkan air hujan dengan pH di bawah 5,6 yang menandakan bahwa hujan di Indonesia sedang tidak dalam keadaan yang baik-baik saja. Menurut kajian peneliti BMKG Sheila Dewi Ayu Kusumaningtyas dan tim, tren menurunnya pH air hujan di Jakarta telah terjadi sejak tahun 2000 yang terus mengalami penurunan di tiap tahunnya, hal yang sama juga terjadi di sejumlah kota besar seperti Medan, dan Sumatera Utara. Diperkirakan menurunnya pH air hujan di Jakarta ini dipengaruhi oleh faktor kiriman polutan dari daerah sekitarnya, terutama daerah industri. Namun, pada dasarnya terdapat beberapa penyebab yang dapat mengakibatkan terjadinya hujan asam, antara lain sebagai berikut:
- Polusi Udara
Terjadinya hujan asam juga dapat disebabkan dari adanya polusi udara yang berasal dari industri seperti pembangkit listrik yang melepaskan sulfur dioksida dan nitrogen dioksida yang merupakan efek samping dari pembakaran bahan bakar fosil. Selain itu, polusi udara juga dihasilkan dari sistem pembuangan kendaraan seperti mobil, truk, dan bus. Polusi udara yang melepaskan berbagai substansi kimia ke udara tersebutlah yang berpotensi memicu terjadinya hujan asam.
- Bencana Alam
Salah satu bencana alam yang dapat menyebabkan hujan asam adalah peristiwa gunung meletus. Saat terjadi erupsi, gunung berapi melepaskan polutan ke udara, dan polutan inilah yang dapat menyebabkan terjadinya hujan asam.
- Kandungan karbon dioksida yang banyak di udara
Kadar karbon dioksida yang terlalu banyak di udara dapat menyebabkan sejumlah dampak buruk seperti menjadi penyebab terjadinya hujan asam
Lantaran hujan asam memiliki kadar pH di bawah 5,6 tentu saja memiliki berbagai dampak negatif bagi kehidupan di bumi, mulai dari manusia, tumbuhan, hewan, hingga alam sekitar. Mengutip dari situs Gramedia, berikut ini terdapat beberapa dampak yang dihasilkan oleh hujan asam.
- Tumbuhan terancam mati akibat pengikisan jaringan epidermis
Pengikisan jaringan epidermis pada tumbuhan dapat menyebabkan kekeringan hingga rentan terserang berbagai hama penyakit dan serangga. Kondisi ini jika dibiarkan dalam jangka waktu panjang dapat berujung kematian.
- Peningkatan karbon dioksida mengancam kehidupan hewan
Usai terjadinya hujan asam, kadar karbon dioksida dalam air akan meningkat yang berimbas pada matinya hewan yang berada di ekosistem air. Kondisi ini, secara otomatis akan mempengaruhi rantai makanan yang dapat mengancam kehidupan hewan-hewan.
- Sebabkan berbagai penyakit untuk manusia
Terjadinya hujan asam juga memiliki dampak kepada manusia seperti timbulnya berbagai penyakit pada gangguan pernapasan, seperti asma, bronkitis, emfisema, serta pneumonia.
- Sebabkan korosi pada besi
Kandungan asam pada hujan asam dapat mengakibatkan korosi pada besi yang berdampak besar pada bangunan yang menggunakan bahan besi
- Merusak ekosistem air
Ekosistem yang paling terdampak dari terjadinya hujan asam adalah ekosistem air. Kendati hujan asam tidak turun di laut namun saat turun di danau atau sungai, lama kelamaan akan sampai ke laut dan mempengaruhi kehidupan biota laut. Dengan kandungan asam yang tinggi sulit untuk ikan atau hewan laut lainnya untuk hidup.
Setelah mengetahui berbagai dampak dari hujan asam yang cukup mengerikan bagi ekosistem makhluk hidup, sudah sepatutnya kita memulai untuk mencegah atau mengurangi terjadinya hujan asam bertambah parah. Terdapat beberapa usaha yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya hujan asam seperti berikut ini:
- Terapkan 3R (Reuse, Reduce, dan Recycle) secara konsisten
- Kurangi penggunaan kendaraan bermotor
- Perbanyak ruang terbuka hijau
- Kurangi penggunaan energi listrik
Dengan menerapkan empat hal tersebut secara konsisten, kita dapat secara perlahan mengurangi terjadinya hujan asam dan meningkatkan kembali pH air hujan hingga mencapai kadar normal, sehingga akan terwujud lagi air hujan yang aman dan tidak merugikan ekosistem.

