Pada pertengahan tahun 2023, sejumlah kota di Indonesia khususnya Jakarta menghadapi masalah serius mengenai polusi udara yang memprihatinkan. Pasalnya, Jakarta pernah menduduki sebagai salah satu kota dengan polusi udara terburuk di dunia sebesar 161 dengan kategori tidak sehat berdasarkan indeks kualitas udara oleh situs pemantau IQAir. Bagi orang yang terpapar, polusi udara tak hanya berpengaruh pada kesehatan fisik, namun juga berdampak pada kesehatan mental, mulai dari stres hingga depresi.

Beberapa penelitian telah mengidentifikasi hubungan mengenai polusi udara dan kesehatan mental. Sebuah penelitian dari Harvard School of Public Health mempelajari mengenai polusi udara yang berpengaruh pada stres. Stres merupakan reaksi seseorang pada lingkungannya yang mengharuskan orang tersebut untuk menyesuaikan diri. Stres dapat menimbulkan masalah biologis, psikologis, dan sosial, yang bahayanya cukup serius bagi seseorang.

Sebuah penelitian yang dipimpin oleh Profesor Kam Bhui di Departemen Psikiatri Universitas Oxford menyatakan, paparan polusi udara juga dapat dikaitkan dengan peningkatan risiko gangguan kesehatan mental seperti depresi, anxiety, dan bahkan gangguan neurokognitif seperti demensia. Lebih lanjut, peneliti di Universitas Negeri Ohio memperlihatkan tikus ke udara yang tercemar selama enam jam sehari, lima hari dalam seminggu dalam kurun waktu sepuluh bulan.

Udara yang tercemar pada tikus termasuk ke dalam konsentrasi polutan partikel PM2.5, tingkat konsentrasi tersebut mirip dengan paparan udara pada manusia di daerah perkotaan. Hasilnya, tikus yang terpapar udara tercemar menunjukkan banyak perilaku depresi. Ketika peneliti memeriksa otak tikus yang terpapar tersebut, mereka menemukan area otak yang disebut hippocampus telah berubah dari sebelumnya yaitu pada tikus yang menghirup udara bersih. Kerusakan hippocampus berkaitan dengan terjadinya depresi.

Paparan polusi udara mampu memperparah gejala kecemasan dan depresi, bahkan gejala-gejala tersebut dapat muncul pada orang-orang yang sebelumnya tidak memiliki faktor risiko mengenai kesehatan mental. Dalam jangka waktu yang lama, paparan polutan dapat dikaitkan dengan peningkatan 17% kasus gangguan bipolar, dan peningkatan 20% diagnosis gangguan kepribadian.

Dampak polusi udara terhadap kesehatan mental tidak hanya terbatas pada orang dewasa. Pada anak-anak, polusi udara cenderung akan mengembangkan gejala antisosial di masa dewasa atau yang dikenal sebagai sosiopat. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah memperkirakan lebih dari 90 persen anak-anak di seluruh dunia menghirup udara yang tercemar dan dianggap merusak kesehatan serta perkembangan.

Kualitas udara yang buruk bisa terjadi kapan saja dan di mana saja. Menghirup udara bersih menjadi salah satu langkah untuk mengurangi gejala kesehatan mental. Oleh karena itu, perlu adanya pencegahan yang harus dilakukan untuk melindungi kesehatan mental akibat dari adanya bahaya polusi udara. Salah satu hal yang dapat melindungi Anda dan keluarga dari bahaya polusi udara dengan meningkatkan kualitas udara dalam ruangan.

Sirkulasi udara yang baik dapat membantu dalam menurunkan potensi penyakit berbahaya yang mampu menyebar melalui udara. Selain itu, juga mencegah gangguan kesehatan mental seperti stres maupun depresi di kemudian hari. Sebuah teknologi yang dapat menunjang sanitasi udara ialah ultraviolet-C (UV-C). Teknologi UVC telah teruji efektif dalam mensterilisasi patogen berbahaya pada udara. Anda dan keluarga menjadi lebih terlindungi dari penyebaran penyakit melalui polusi udara.