Usaha peternakan ayam masih menjadi komoditas unggulan dalam industri peternakan. Pastinya Sobat Farming akan berusaha semaksimal mungkin menjaga ayamnya agar terbebas dari serangan penyakit yang mengancam proses produksi bibit, telur, dan daging. Meningkatkan program biosecurity dan kesehatan ternak bukanlah hal yang biasa lagi. Sobat Farming harus konsisten melaksanakan program itu agar ayam tetap terjaga produktivitasnya dari ancaman penyakit yang sudah ada atau baru muncul hingga masa produksi selesai. Namun, belakangan ini terdapat ancaman penyakit baru dengan gejala mirip seperti penyakit pernapasan lainnya yang membuat para peternak bingung dalam diagnosisnya. Penyakit ini adalah Swollen Head Syndrom (SHS). Apa itu penyakit SHS?
Swollen Head Syndrome (SHS) adalah penyakit viral yang disebabkan oleh virus Avian Pneumovirus. Penyakit ini sangat mudah menular pada ayam, dengan gejala utama berupa pembengkakan di area kepala, gangguan pernapasan, dan penurunan produksi telur. Swollen Head Syndrome (SHS) umumnya menyerang ayam layer saat mencapai puncak produksi pada usia sekitar 8 hingga 12 minggu, yang mengakibatkan penurunan produksi telur hingga 30%, meskipun bentuk dan kualitas telur tetap normal. Tingkat kematian ayam petelur akibat SHS sangat rendah, hanya sekitar 0,1% hingga 0,5%, namun kerugian ekonomi cukup besar disebabkan oleh penurunan produksi telur yang berkisar antara 5% hingga 30%. Sementara itu, pada ayam broiler, infeksi biasanya terjadi pada usia 3 hingga 4 minggu, atau mendekati waktu panen.
Gejala Swollen Head Syndrome umumnya diawali dengan gangguan pernapasan, seperti suara ngorok yang tidak membaik meskipun sudah dilakukan pengobatan antibiotik. Ayam terlihat lemah, sering bersin, mengalami konjungtivitis berbusa, dan kesulitan bernapas (dyspnea). Pembengkakan pada area kepala dan rahang bawah (mandibula) kemudian mulai terlihat dengan jelas. Kondisi ini juga dapat menyebabkan infeksi sekunder, seperti colibacillosis. Pada kasus yang lebih serius, ayam bisa mengalami opistotonus dan tortikolis (kejang otot dan leher terpuntir). Dampak lain yang signifikan adalah penurunan produksi telur. Penularan penyakit ini bersifat horizontal, baik langsung maupun tidak langsung melalui personal, peralatan dan kendaraan serta pakan dan air minum yang tercemar virus dengan masa inkubasi 3-5 hari.
Lantas, bagaimana cara pencegahan penyakit SHS ini agar produktivitas ayam Sobat Farming tetap terjaga?
Kuncinya adalah manajemen pemeliharaan yang baik penting dilakukan untuk mencegah kejadian penyakit SHS melalui:
1.Vaksinasi
Pencegahan dilakukan melalui vaksinasi, dimulai dengan vaksin aktif yang kemudian dilanjutkan dengan vaksin inaktif. Pada ayam broiler, vaksin aktif diberikan pada usia 4 hingga 14 hari melalui tetesan mulut atau dicampurkan ke dalam air minum. Sementara itu, pada ayam petelur, vaksin aktif diberikan pada usia 8 hingga 12 minggu, kemudian di-boost pada usia 17 hingga 18 minggu.
2. Sanitasi
Sanitasi yang kurang baik dapat memperburuk penyakit SHS. Peternak dapat melakukan pembersihan kandang dan peralatan menggunakan VIROL-OXY® yang merupakan solusi terbaru untuk sanitasi permukaan yang berasal dari Jerman. Berbeda dengan sanitasi permukaan pada umumnya, VIROL-OXY® memiliki kemampuan self-sanitizing. Hal ini menyebabkan 1 semprotan VIROL-OXY® dapat mendisinfeksi permukaan yang sama secara terus menerus hingga 30 hari. Selain itu, VIROL-OXY® dapat meminimalisir bau tidak sedap yang disebabkan oleh bakteri di permukaan.

3. Manajemen Pemeliharaan
Selalu perhatikan manajemen pemeliharaan dengan mensterilkan udara di kandang menggunakan LUMINOR AIR dengan teknologi sinar ultraviolet C (UV-C) yang memiliki panjang gelombang 254 nanometer (nm), sehingga ampuh dalam menonaktifkan 99,9% patogen di udara. LUMINOR AIR menjamin bahwa udara yang dihasilkan selalu steril dan bebas dari mikroorganisme berbahaya seperti bakteri, virus, dan jamur.

Hal yang tidak kalah penting adalah lakukan sanitasi air minum dengan menggunakan Luminor UV-C System yang merupakan solusi tepat untuk disinfeksi air dengan menggunakan teknologi sinar UV-C yang mampu mendesinfeksi mikroorganisme berbahaya di air hingga 99,9%. Berbeda dengan lampu UV-C konvensional lainnya, Luminor UV-C System tidak cepat panas, sehingga dapat memperpanjang umur ballast. Baterai lampu Luminor UV-C System lebih awet karena dapat bertahan hingga 9.000 – 10.000 jam serta dilengkapi garansi produk hingga 10 tahun.

Untuk mencegah SHS, Sobat Farming perlu menerapkan langkah-langkah pencegahan yang efektif, seperti vaksinasi aktif dan inaktif, menjaga sanitasi kandang dan peralatan, serta memperhatikan manajemen pemeliharaan yang baik. Teknologi modern seperti VIROL-OXY® dan Luminor UV-C System sangat membantu dalam meningkatkan sanitasi dan disinfeksi, baik pada udara, permukaan, dan air minum di peternakan, sehingga Sobat Farming dapat menjaga produktivitas ayam tetap optimal serta mengurangi risiko penyakit baru muncul di peternakan.
Baca Juga:
- Sering Diremehkan, Ini Tanda-tanda Air di Rumah Anda Butuh Filter Air Segera
- Air Kuning di Rumah, Berbahaya atau Tidak? Ini Penyebab & Cara Mengatasinya
- Lebih dari 90% Air Tanah di Jakarta Tercemar E. coli, Yakinkah Air di Rumah Anda Sudah Aman?
- Filter Air Sumur EVI: Solusi untuk Segala Kondisi Air Sumur di Indonesia
- Treatment Air Bersih Terpercaya dengan Pengalaman Lebih dari 40 Tahun

