Halo Mitra Budidaya. Infeksi penyakit pada komoditas budidaya udang vaname masih menjadi satu hal yang sering terjadi. Tak jarang, kejadian ini berdampak pada kerugian secara ekonomi bagi para pembudidaya. Infeksi penyakit disebabkan oleh patogen yang menginfeksi seperti, bakteri, virus, fungi dan parasit. Salah satu contoh virus yang sering menginfeksi yaitu infectious myonecrosis virus (IMNV) atau penyakit myo. IMNV merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus RNA berutas ganda yang digolongkan dalam famili Totiviridae memiliki panjang diameter 40 nm. IMNV pertama kali terdeteksi di Indonesia yaitu di Situbondo, Jawa Timur pada tahun 2006. IMNV dilaporkan mampu menyebabkan mortalitas hingga 70% dengan gejala yang ditunjukkan yaitu terdapat nekrosis jaringan sehingga memunculkan guratan putih pada punggung dan ekor udang serta tidak jarang berubah menjadi kemerahan pada bagian tersebut.
Penularan IMNV dapat terjadi secara horizontal yaitu dari air dan kanibalisme serta secara vertikal melalui induk yang positif IMNV. Dilaporkan bahwa pada tahun 2008 penyakit myo sudah menyebar ke daerah lain di sekitar Jawa Timur dengan tingkat prevalensi sebesar 5-23%. Oleh karena itu, sangat penting bagi para pembudidaya menerapkan biosecurity pada tambaknya masing-masing sebagai langkah preventif untuk mencegah persebaran penyakit myo. Salah satu langkah yang harus dilakukan yaitu melalui desinfeksi air.
Namun, saat ini cara pembudidaya mendesinfeksi air masih banyak menggunakan metode konvensional yaitu pemberian kaporit. Pemberian kaporit dinilai belum cukup efektif untuk mendesinfeksi air tambak. Karena pemberian kaporit secara terus menerus akan berdampak pada resistensi patogen terhadap kaporit. Selain itu, penggunaan kaporit cenderung membutuhkan waktu yang lama (2-3 hari) untuk menetralkannya. Sedangkan kebutuhan tambak terhadap intake air harian harus dilakukan. Jika dikalkulasikan, cost produksi cenderung tinggi untuk penyediaan kaporit pada jangka panjang. Tentu hal ini sangat tidak efisien dan boros, mengingat cost untuk penyediaan pakan sudah tinggi. Selain itu, penggunaan kaporit dapat meninggalkan residu di air yang dapat masuk ke tubuh udang. Akibatnya udang yang mengandung kaporit akan sulit untuk di ekspor dan jika dikonsumsi oleh manusia, maka kaporit akan terakumulasi di dalam tubuhnya. Hal tersebut tentu sangat berbahaya bagi manusia.
Penggunaan sinar UV-C (Ultraviolet) telah banyak digunakan untuk mendesinfeksi air, dengan tujuan membunuh mikroorganisme yang berpotensi menginfeksi udang. Karena UV-C memiliki panjang gelombang (100-280 nm) yang mampu menonaktifkan mikroorganisme dengan merusak materi genetiknya (DNA & RNA). Selain itu UV-C juga efektif meningkatkan survival rate (SR) hingga 99.99%. Namun penggunaan UV-C masih belum optimal. Karena UV-C yang digunakan belum sesuai standar yang dibutuhkan seperti chamber berbahan yang mudah korosi dan tidak tahan panas, perawatan yang cukup rumit sehingga riskan terhadap biaya tambahan, dan dosis UV yang tidak spesifik terhadap target mikroorganisme. Sehingga cenderung boros dan menambah biaya untuk perawatannya.
Oleh karena itu, dibutuhkan teknologi untuk mengatasi permasalahan ini. ULTRAAQUA hadir sebagai jawaban atas permasalahan tersebut. ULTRAAQUA adalah produk UV-C filter yang berasal dari Denmark dan telah tersertifikasi oleh lembaga internasional. ULTRAAQUA memiliki keunggulan yaitu hemat biaya karena bohlam UV dapat bekerja hingga 16.000 jam, hemat energi hingga 22% karena menggunakan teknologi lampu Ultratherm, minim perawatan karena dilengkapi Ultrawiper yang mampu membersihkan quartz sleeve saat UV-C sensor mendeteksi ada kerak atau hal lain yang menghalangi proses desinfeksi, garansi chamber 10 tahun, dan garansi ballast 3 tahun. ULTRAAQUA juga dilengkapi kontroler yang sudah advanced dan user friendly serta chamber berbahan polypropylene (PP) yang tahan korosi, panas, dan tidak meninggalkan residu. Sehingga mudah digunakan dan tahan lama. Penggunaan ULTRAAQUA diharapkan dapat membantu pembudidaya dalam menghadapi ancaman serangan IMNV, sehingga produksi udang dapat lebih meningkat.
Referensi:
Zaujat RC, Setiyaningsih S, Lusiastuti AM. 2016. Prevalensi dan karakterisasi molekuler infectious myonecrosis virus (IMNV) di sentra budidaya udang vaname (Litopenaeus vannamei) Propinsi Banten. Acta Veterinaria Indonesiana. 4(2):88-96.
Baca Juga:
- Sering Diremehkan, Ini Tanda-tanda Air di Rumah Anda Butuh Filter Air Segera
- Air Kuning di Rumah, Berbahaya atau Tidak? Ini Penyebab & Cara Mengatasinya
- Lebih dari 90% Air Tanah di Jakarta Tercemar E. coli, Yakinkah Air di Rumah Anda Sudah Aman?
- Filter Air Sumur EVI: Solusi untuk Segala Kondisi Air Sumur di Indonesia
- Treatment Air Bersih Terpercaya dengan Pengalaman Lebih dari 40 Tahun
