Air bersih bukan sekadar kebutuhan, tapi penentu hidup-matinya ribuan ternak. Jumlah air mungkin tercukupi, tapi kalau kualitasnya buruk, yang datang justru penyakit. Air bisa menjadi sumber kehidupan, namun juga bisa menjadi sumber outbreak di peternakan.

Makanya, lakukan 3 langkah sederhana ini agar air di peternakan tidak berubah menjadi ancaman penyebab penyakit massal di kandang.

1.Gunakan Pre-filter untuk Menyaring Partikel dan Mereduksi Kontaminan Kimia

Lumpur, pasir, dan kotoran fisik tersaring secara menyeluruh, sekaligus kontaminan kimiawi seperti besi, mangan, kapur, dan klorin dapat tereduksi. Hasilnya? Partikel dan kontaminan kimia sudah berkurang sehingga airnya sesuai dengan standar baku mutu air minum dan sanitasi yang aman diminum oleh ternak kita.

Namun, penting untuk memastikan apakah media penyaringan benar-benar bekerja efektif atau hanya dilewati air begitu saja. Dari pengalaman di lapangan, banyak peternak sudah memasang filter, tetapi belum memahami prinsip dasar dan teknis pre-filter yang ideal untuk peternakan. Ditambah lagi, perawatan filter yang tidak konsisten dan tidak digalakkan oleh vendor sebelumnya, membuat performa filter jauh dari optimal. 

Sayangnya, banyak yang hanya berperan sebagai trader, bukan solution provider yang memberikan solusi menyeluruh untuk para peternak di Indonesia.

2. Gunakan Teknologi disinfeksi sinar UV-C untuk sterilisasi air minum ternak

Cahaya UV-C terbukti efektif menonaktifkan bakteri, virus, dan protozoa tanpa menggunakan bahan kimia. Kami menyarankan menggunakan sistem UV-C yang sudah tersertifikasi secara global. Mengapa? Karena sertifikasi internasional menunjukkan bahwa sistem tersebut telah diuji dan terbukti efektif secara pasti, meskipun investasinya relatif lebih tinggi. Singkatnya, seperti pepatah: “ada harga, ada kualitas.”

Dari pengalaman saya, banyak peternak belum menggunakan lampu UV-C secara benar. Akibatnya, lampu sering dicelupkan langsung ke tandon atau penampungan air, padahal cahaya UV-C berbahaya jika terkena langsung mata atau kulit karena sinar UV-C memiliki panjang gelombang 200–280 nm, yang membawa energi tinggi. 

Oleh karena itu, penting memahami penggunaan UV-C yang tepat, termasuk memperhatikan intensitas lampu dan waktu kontak, kondisi air, desain sistem, serta pemeliharaan lampu.

3. Lakukan Flushing Pipa dan Sanitasi Tandon Secara Rutin

Pipa dan tandon sering menjadi tempat terbentuknya kerak akibat air yang belum bersih. Jika dibiarkan, kerak ini dapat berkembang menjadi biofilm, sarang bagi patogen untuk bersembunyi.

Untuk mengatasinya, gunakan disinfektan berbasis oksidator kuat seperti H₂O₂  yang efektif menghancurkan virus dan bakteri. Larutannya stabil, aman, ramah lingkungan, dan tidak meninggalkan residu berbahaya, sehingga aman digunakan dalam jangka panjang.

Untuk penggunaan disinfektan, larutan disiapkan pada konsentrasi 0,5–1%, kemudian dilakukan flushing selama 30–60 menit agar semua permukaan pipa dan tandon bersentuhan dengan oksidator. Disinfeksi ini sebaiknya dilakukan 1–2 kali per minggu, menyesuaikan tingkat kontaminasi dan volume sistem air di peternakan.

Jadi, sudahkah air di peternakan kita melakukan perlindungan 3 langkah sederhana ini?

Mari pastikan ternak kita minum air bersih dan aman! Hubungi kami untuk diskusi solusi air treatment yang efektif dan menyeluruh untuk peternakan Sobat.

Baca Juga: